Dataset Viewer
Auto-converted to Parquet Duplicate
Regulation Name
stringlengths
2
3.85k
โŒ€
Regulation Number
stringlengths
1
63
โŒ€
Year
stringdate
1945-01-01 00:00:00
2030-01-01 00:00:00
โŒ€
About
stringlengths
3
18.3k
โŒ€
Chapter
stringlengths
5
2.72k
โŒ€
Article
stringlengths
5
36
โŒ€
Content
stringlengths
11
32.8k
โŒ€
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 1
(1)Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kesehatan adalah penerimaan yang berasal dari pelayanan pada unit -unit di lingkungan Departemen Kesehatan: a.Sekretariat Jenderal; b.Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat; c.Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik; d.Direktorat Jenderal Penge...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 2
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 mempunyai tarif dalam bentuk satuan Rupiah.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 3
... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -3-
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 3
(1)Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan berupa Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan dan Dana Pengembangan Pendidikan Kelas Reguler dan Non Reguler untuk mahasiswa tertentu adalah sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif seba...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 4
(1)Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari jasa pengujian dan pemeriksaan yang dilaksanakan di luar laboratorium tidak termasuk biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi bagi tenaga penguji . (2)Biaya akomodasi, konsumsi, dan trans portasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 5
... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -4-
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 5
Seluruh Pen erimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib disetor langsung secepatnya ke Kas Negara.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 6
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku maka: 1.Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2006 tentang Jenis dan T arif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4613); dan ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 7
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar ... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -5- Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2009 PRESIDEN REPUBL...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 2
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 3
Yang dimaksud dengan โ€œ mahasiswa tertentuโ€ antara lain mahasiswa yang berprestasi dan mahasiswa yang tidak mampu. โ€ฆ PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA -2- Cukup jelas. Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 4
Cukup jelas. Yang dimaksud dengan โ€œketentuan peraturan perundang - undanganโ€ adalah peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai standar biaya .
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 5
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 6
Pengertian Kas Negara adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang - undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak
PERATURAN PEMERINTAH REPUBL IK INDONESIA
13
2009
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 7
Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPU BLIK INDONESIA NOMOR 4975 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2009 TANGGAL 16 JANUARI 2009 JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAK U PADA DEPARTEMEN KESEHATAN JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
61
2008
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2004
null
Pasal 1
adalah untuk melakukan: a. pengelolaan aset negara yang berasal dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional setelah pengakhiran tugas dan pembubaran Badan Penyehatan Perbankan Nasional, untuk dan atas nama Menteri Keuangan; b. restrukturisasi dan/atau revitalisasi Badan Usaha Milik Negara; c. kegiatan investasi...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
61
2008
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2004
null
Pasal 5
Pengaturan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan restrukturisasi dan revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Persero diatur oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara setelah dikonsultasikan dengan Menteri Keuangan. Pasal II Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar . ....
Keuangan;BADANPEMERIKSA KEUANGANREPUBLIK INDONESIA,DENGAN RAHMATTUHANYANGMAHAESAPERATURANBADANPEMERIKSA KEUANGAN
15
2004
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
null
Pasal 1
Dalam Peraturan iniyang dimaksud dengan: 1. Badan Pemeriksa Keuangan, yang selanjutnya disingkat BPK, adalah Lembaga Negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945. 2. Ketua adalah Ketua BPK. 3.WakilK...
Keuangan;BADANPEMERIKSA KEUANGANREPUBLIK INDONESIA,DENGAN RAHMATTUHANYANGMAHAESAPERATURANBADANPEMERIKSA KEUANGAN
15
2004
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
null
Pasal 10
(1) Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, BPK dibantu olehPelaksana BPK. (2) Pelaksana BPKterdiri dari: a. Sekretariat Jenderal; b. Unitpelaksana tugas Pemeriksaan; c. Unitpelaksana tugas penunjang; d. BPKPerwakilan; e. Pemeriksa;dan f.Pejabat lainyang ditetapkan olehBPKsesuai dengan kebutuhan . (3) Ketentuan lebih ...
Keuangan;BADANPEMERIKSA KEUANGANREPUBLIK INDONESIA,DENGAN RAHMATTUHANYANGMAHAESAPERATURANBADANPEMERIKSA KEUANGAN
15
2004
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
null
Pasal 47
(1)-24 - Pasa153 (1)Untuk menjamin pelaksanaan pembayaran ganti kerugian, BPKberwenangmemantau: a. penyelesaian ganti kerugian negara/ daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah terhadap pegawainegeri bukan bendahara dan pejabat lain;BagianKesatu Pemantauan KerugianNegaraBABIX PEMANTAUAN DANPENYELESAIAN KERUGIAN NEGARAPasa...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 1
Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2008, pensiun pok ok Purnawirawan, Warakawuri atau Duda, tunjangan Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu, dan tunjangan Orang Tua Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diteta pkan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran I, Lampiran II, Lampiran III, Lampiran IV, dan Lampiran V Per...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 2
Bagi Purnawirawan yang menerima pensiun karena caca t tetap diberikan tunjangan cacat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 3
(1) Bagi penerima Pensiun Warakawuri atau Duda, Tunjang an Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu dari Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang gugur/tewas/meninggal dunia dan tunjangan Orang Tua dari Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia y ang gugur/tewas/meninggal dunia dalam dan karena dinas sebelu...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 4
(1) Pembayaran pensiun pokok Purnawirawan, Warakawuri atau Duda, tunjangan Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim P iatu dan tunjangan Orang Tua Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang gugur/tewas/meninggal dunia dalam dan karena dinas, diberikan terhitung mulai t anggal 1 Januari 2008. (2) Sejak mulai diberlakuk...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 5
. . . - 5 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 5
Penyesuaian pensiun pokok sebagaimana dimaksud dala m
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 6
Selain pensiun pokok/tunjangan pokok, kepada peneri ma pensiun Purnawirawan/Warakawuri atau Duda, tunjanga n Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu, tunjangan Orang Tua dan penerima tunjangan cacat Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia diberikan tunjangan keluarga dan tunjanga n pangan sesuai dengan peraturan p...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 7
Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksa naan Peraturan Pemerintah ini ditetapkan oleh Kepala Kep olisian dan/atau Menteri Keuangan baik secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri menurut bidang tugasn ya masing-masing.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 8
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, P eraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2007 tentang Penetapan Pe nsiun Pokok Purnawirawan, Warakawuri atau Duda, Tunjangan Anak Yatim/Piatu, Anak Yatim Piatu dan Tunjangan Orang T ua Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, dicab ut dan dinyatakan tidak berlaku.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
17
2008
PENETAPAN PENSIUN POKOK PURNAWIRAWAN,
null
Pasal 9
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar . . . - 6 - Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indone sia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Pebruari 2008 ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 1
(1) Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Peraturan Pemerintah ini adalah Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang luas kawasan hutannya di atas 30% (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan/atau pulau. ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 2
Seluruh Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib disetor langsung secepatnya ke kas negara.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 3
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 mempunyai tarif dalam bentuk satuan rupiah.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 4
(1) Terhadap penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang bersifat nonkomersial dikenakan tarif sebesar Rp0,00 (nol rupiah). (2) Ketentuan . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 4 - (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pe...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 5
Tata cara pengenaan, pemungutan, dan penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan setelah menerima usulan dan pertimbangan tertulis dari Menteri Kehutanan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 6
Pengguna kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang telah menyelesaikan kewajiban kompensasi lahan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini, tidak dikenakan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 7
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 5 - Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 2
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 3
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 4
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 5
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 6
Cukup jelas.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
2
2008
JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK
null
Pasal 7
Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4813 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TANGGAL 4 FEBRUARI 2008 JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERASAL DARI PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN UNTUK KEPEN...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
null
Pasal 10
, Pasal 13 ayat (4), Pasal 24 ayat (3), Pasal 76, Pasal 79 ayat (3), Pasal 82 ayat (3), Pasal 84 ayat (2), Pasal 85 ayat (2), Pasal 86 ayat (2), Pasal 87 ayat (2), dan Pasal 105 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-Undan...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB I - KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelaya...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 2
Urusan Administrasi Kependudukan diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Bagian Kedua ... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 6 - Bagian Kedua Pemerintah
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 3
Pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan Administrasi Kependudukan secara nasional, yang dilakukan oleh Menteri dengan kewenangan meliputi: koordinasi antarinstansi dalam urusan Administrasi Kependudukan; penetapan sistem, pedoman, dan standar pelaksanaan Administrasi Kependudukan; sosialis...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 4
Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, Menteri berwenang mengadakan koordinasi: a. secara nasional dengan melibatkan departemen/lembaga pemerintah non departemen, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota secara berkala; b. antarsusunan pemerintahan yang terkait dengan ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 5
(1) Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b, Menteri berwenang menetapkan pedoman perencanaan dan pelaksanaan, standar spesifikasi dan standar kualitas formulir, pengendalian serta pengawasan. (2) Ketentuan . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 7 - (2) Ketentua...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 6
Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c, Menteri berwenang mengadakan: a. bahan sosialisasi; b. kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi; c. sosialisasi iklan layanan masyarakat melalui media cetak dan elektronik; dan d. komunikasi, informasi dan edukasi...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 7
Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d, Menteri berwenang: a. menetapkan standar kualifikasi sumber daya manusia pelaksana Administrasi Kependudukan; b. memberikan bimbingan teknis pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi kependudukan dan pendayagunaan dat...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 8
Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf e, Menteri menetapkan: a. tata cara pengelolaan data kependudukan yang bersifat perseorangan, agregat dan data pribadi di pusat, provinsi dan kabupaten/kota; dan b. tata cara penyajian data kependudukan yang valid, akurat dan dapat dipertangg...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 9
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 8 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 9
(1) Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf f, Menteri menetapkan: a. standar dan spesifikasi blangko Dokumen Kependudukan berupa blangko KK, KTP, Register Akta Pencatatan Sipil, Kutipan Akta Pencatatan Sipil; b. perusahaan pencetak blangko Dokumen Kependudukan berupa blangko KK, ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 10
(1) Perusahaan pencetak yang telah ditetapkan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4) berhak mengikuti pengadaan blangko dokumen kependudukan. (2) Pengadaan blangko Dokumen Kependudukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan. (3) Menteri berwe...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 11
Pemerintah provinsi berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan, yang dilakukan oleh gubernur dengan kewenangan meliputi: koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipi...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 12
(1) Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf a, gubernur mengadakan koordinasi: a. dengan instansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen; dan b. antar kabupaten/kota mengenai penyelenggaraan urusan Administrasi Kependudukan. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 13
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf b, gubernur : a. memberikan bimbingan teknis pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengelolaan informasi kependudukan dan pendayagunaan data kependudukan; b. melaksanakan supervisi kegiatan verifikasi dan validasi data kependudukan serta penye...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 14
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 10 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 14
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf c, gubernur mengadakan: a. koordinasi sosialisasi antarinstansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen; b. kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi; c. sosialisasi iklan layanan masyarakat melalui media cetak ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 15
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf d, gubernur melakukan: a. pengelolaan data kependudukan yang bersifat perseorangan, agregat dan data pribadi; dan b. penyajian data kependudukan yang valid, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 16
(1) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf e, gubernur melakukan koordinasi pengawasan antarinstansi terkait. (2) Koordinasi pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui rapat koordinasi, konsultasi, pencegahan dan tindakan koreksi. Bagian Keempat Pemerinta...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 17
Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan, yang dilakukan oleh bupati/walikota dengan kewenangan meliputi: koordinasi . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 11 - koordinasi penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; pembentukan Instansi...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 18
(1) Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf a, bupati/walikota mengadakan koordinasi dengan instansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen. (2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkaitan dengan aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan ev...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 19
Urusan administrasi kependudukan di kabupaten/kota dilaksanakan oleh Instansi Pelaksana. Pelaksanaan pencatatan sipil yang meliputi pencatatan peristiwa kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, pengakuan anak di kecamatan tertentu dilakukan oleh UPTD Instansi Pelaksana.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 20
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 12 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 20
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf c, bupati/walikota mengadakan pengaturan teknis penyelenggaraan Administrasi Kependudukan, diatur dengan Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati/Walikota berpedoman pada Peraturan Perundang- undangan di bidang Administrasi Kependudukan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 21
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf d, bupati/walikota mengadakan: a. koordinasi sosialisasi antarinstansi vertikal dan lembaga pemerintah non departemen; b. kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi; c. sosialisasi iklan layanan masyarakat melalui media c...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 22
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf e, bupati/walikota menyelenggarakan kegiatan pelayanan masyarakat di bidang Administrasi Kependudukan, dilaksanakan secara terus menerus, cepat dan mudah kepada seluruh penduduk.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 23
Dalam melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf f, bupati/walikota memberikan penugasan kepada desa atau nama lain untuk menyelenggarakan sebagian urusan Administrasi Kependudukan berasaskan tugas pembantuan, disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia berdasarkan Pera...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 24
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 13 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 24
Dalam menyelenggarakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf g, bupati/walikota melakukan: a. pengelolaan data kependudukan yang bersifat perseorangan, agregat dan data pribadi; dan b. penyajian data kependudukan yang valid, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 25
(1) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 huruf h, bupati/walikota melakukan koordinasi pengawasan antarinstansi terkait. (2) Koordinasi pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui rapat koordinasi, konsultasi, pencegahan dan tindakan koreksi.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB II - PENYELENGGARAAN KEWENANGAN
Pasal 25
di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 27
Dalam menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan di kabupaten/kota, dibentuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil sebagai Instansi Pelaksana yang diatur dalam Peraturan Daerah. Dalam . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 14 - Dalam menyelenggarakan urusan Administrasi Kependudukan di Provinsi ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 28
Dalam melaksanakan ketentuan mengenai Administrasi Kependudukan, Instansi Pelaksana berwenang: a. melakukan koordinasi dengan Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota dan Pengadilan Agama berkaitan dengan pencatatan nikah, talak, cerai dan rujuk bagi penduduk yang beragama Islam yang dilakukan oleh Kantor Urusan Agama...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 29
Dalam melaksanakan ketentuan mengenai Administrasi Kependudukan, Instansi Pelaksana mempunyai tugas: a. menyediakan dan menyerahkan blangko dokumen kependudukan dan formulir untuk pelayanan pencatatan sipil sesuai dengan kebutuhan; b. meminta laporan pelaksanaan tugas, kewajiban dan kewenangan UPTD Instansi Pelaksana...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 30
Dalam melaksanakan wewenang dan tugas mengenai Administrasi Kependudukan, Instansi Pelaksana: melakukan . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 15 - melakukan koordinasi dengan Kantor Departemen Agama kabupaten/kota dalam memelihara hubungan timbal balik melalui pembinaan masing-masing kepada instansi verti...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 31
(1) Pembentukan UPTD Instansi Pelaksana diprioritaskan pada kecamatan yang: a. kondisi geografis terpencil, sulit dijangkau transportasi umum dan sangat terbatas akses pelayanan publik; dan/atau b. memerlukan pemenuhan kebutuhan pelayanan masyarakat. (2) UPTD Instansi Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 32
(1) UPTD Instansi Pelaksana mempunyai tugas melakukan pelayanan pencatatan sipil. (2) Pelayanan pencatatan sipil sebagaimana dimaksud pada , meliputi: a. kelahiran; b. kematian; c. lahir mati; d. perkawinan; e. perceraian . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 16 - e. perceraian; f. pengakua...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 33
Pejabat Pencatat Sipil pada UPTD Instansi Pelaksana berwenang menerbitkan Kutipan Akta Catatan Sipil yang meliputi akta: kelahiran; kematian; perkawinan; perceraian; dan pengakuan anak.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 34
Wilayah kerja UPTD Instansi Pelaksana yang dibentuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat meliputi 1 (satu) kecamatan atau lebih yang secara geografis berdekatan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB III - KELEMBAGAAN
Pasal 35
Susunan organisasi dan tata kerja serta esselonisasi UPTD Instansi Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah mengenai pedoman pembentukan perangkat daerah.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 36
(1) Pengaturan NIK meliputi penetapan digit NIK, penerbitan NIK dan pencantuman NIK. (2) NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara nasional oleh Menteri.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 37
(1) NIK terdiri dari 16 (enam belas) digit terdiri atas: a. 6 (enam) digit pertama merupakan kode wilayah provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan tempat tinggal pada saat mendaftar; b. 6 (enam) digit kedua adalah tanggal, bulan, dan tahun kelahiran dan khusus untuk perempuan tanggal lahirnya ditambah angka 40; dan ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 38
(1) NIK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 diterbitkan oleh Instansi Pelaksana. (2) NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku seumur hidup dan selamanya, tidak berubah dan tidak mengikuti perubahan domisili. (3) NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan setelah dilakukan pencatatan biodata pendudu...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 39
(1) Pada setiap dokumen identitas lainnya yang diterbitkan oleh Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen atau Badan Hukum Publik dan Badan Hukum Privat wajib dicantumkan NIK. (2) NIK dicantumkan pada kolom khusus yang disediakan pada setiap dokumen identitas lainnya yang diterbitkan sebagaimana dimaksud pada aya...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 40
(1) Dokumen Identitas lainnya diterbitkan oleh Departemen/Lembaga Pemerintah Non Departemen, Badan Hukum Publik atau Badan Hukum Privat. (2) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi dokumen identitas diri dan bukti kepemilikan. Bagian Keempat Persyaratan dan Tata Cara Penerbitan Dokumen Identitas...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 41
Dokumen identitas lainnya yang diterbitkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 harus memenuhi persyaratan yang meliputi dokumen resmi dan bukti diri pemegangnya.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 42
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 19 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB IV - NOMOR INDUK KEPENDUDUKAN
Pasal 42
Penerbitan dokumen identitas lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dilakukan dengan cara pemohon menunjukkan/menyerahkan fotokopi KTP atau dokumen kependudukan lainnya untuk melengkapi persyaratan yang ditetapkan oleh instansi atau badan yang menerbitkan dokumen identitas lainnya.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 43
(1) Petugas Rahasia Khusus diberikan Kartu Tanda Penduduk Khusus, untuk memberikan perlindungan dan menjamin kerahasiaan identitas selama menjalankan tugas rahasia. (2) Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan dengan menggunakan spesifikasi yang sama dengan spesifikasi Kartu Tan...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 44
(1) Kepala/Pimpinan Lembaga mengajukan surat permintaan Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 kepada Kepala Instansi Pelaksana. (2) Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Instansi Pelaksana yang wilayah kerjanya meliputi tempat domisili Petugas Rahasia ...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 45
. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA - 20 -
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 45
(1) Berdasarkan surat permintaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, Instansi Pelaksana menerbitkan Kartu Tanda Penduduk Khusus. (2) Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan paling lambat 6 (enam) hari kerja sejak surat permintaan sebagaimana dimaksud dalam
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 44
diterima oleh Kepala Instansi Pelaksana. (3) Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa dipungut biaya. (4) Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku selama 5 (lima) tahun. Bagian Kedua Penyimpanan Data Petugas Rahasia Khusus dan...
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 46
(1) Data Petugas Rahasia Khusus direkam dan disimpan dalam Registrasi Khusus di kabupaten/kota. (2) Data Petugas Rahasia Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dijaga keamanan dan dilindungi kerahasiaannya oleh Kepala Instansi Pelaksana.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 47
(1) Petugas Rahasia Khusus yang tidak lagi menjadi Petugas Rahasia Khusus sebelum berakhirnya masa berlaku Kartu Tanda Penduduk Khusus sebagaimana dimaksud dalam
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
37
2007
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006
BAB V - PENERBITAN DOKUMEN KEPENDUDUKAN BAGI
Pasal 45
, Petugas Rahasia Khusus wajib menyerahkan Kartu Tanda Penduduk Khusus kepada Kepala/Pimpinan Lembaga. (2) Kepala/Pimpinan Lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengembalikan Kartu Tanda Penduduk Khusus kepada Kepala Instansi Pelaksana yang menerbitkan. (3) Kartu . . . PRESIDEN REPUBLIK INDONE...
End of preview. Expand in Data Studio

๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Indonesian Regulation Parsed Dataset

This dataset contains the parsed content of over 250,000 Indonesian regulations, extracted directly from PDFs at the article level โ€” without chunking โ€” resulting in 3.5+ million rows representing individual articles and clauses.


๐Ÿ“„ Dataset Overview

  • Source: Parsed from the original PDF collection of Indonesian regulations (~250K documents)
  • Parsed Units: Articles, clauses, or sections as atomic units (no chunking applied)
  • Size: Over 3.5 million rows of parsed text data
  • Token Count: Approximately 2 billion tokens in total

โš™๏ธ Processing Pipeline

  • Data Flow:

    1. Pull PDFs from the ID_REG repository
    2. Parse and extract articles using automated PDF text extraction methods
    3. Push cleaned, parsed text to this Hugging Face repository
  • Infrastructure:

    • Utilized 6 simultaneous Google Colab instances for parallel processing
    • Cloud-to-cloud architecture enables direct transfer without local storage bottlenecks
    • Total processing time: ~30 hours

๐Ÿง  Use Cases

  • Fine-grained legal text analysis and search
  • Article-level classification, summarization, or information retrieval
  • Training large language models on legal text with natural article boundaries
  • Developing Indonesian regulation compliance tools

โš ๏ธ Disclaimer

This dataset is provided exclusively for research and development purposes. It contains parsed content derived from publicly available legal PDFs, and no guarantees are made regarding completeness or legal accuracy.


๐Ÿ™ Acknowledgments

  • Hosted on Hugging Face โ€” a wonderful platform for open data sharing
  • Processing powered by Google Colab โ€” scalable cloud resources that made fast parallel parsing possible

Downloads last month
221